KLIPING KULIAH FLEKSIBEL ONLINE CEPAT MURAH 0821 17350017 (Telkomsel)

UTKampus Bandung, tempat kuliah fleksibel online cepat gratis karyawan sibuk

Kelapa Sawit, Berkah atau Masalah?


Khudori
Selasa, 05 Juni 2007 | 12:33 WIB

Sejarah perkebunan adalah sejarah kepedihan. Komoditas perkebunan membuat bangsa ini dijajah. Nilainya yang tinggi membuat semua bangsa tergiur menguasainya. Sejarah mencatat bagaimana keuntungan besar diraih korporasi kartel VOC. Tanam paksa memberi Belanda uang 830 juta gulden. Agrarisch Wet 1870 adalah cikal bakal perusahaan perkebunan besar yang roh dan jiwanya hingga sekarang masih hidup, seperti dapat dilihat dalam struktur ekonomi dualistik. Dalam struktur ini, kehidupan perusahaan besar dengan manajemen dan organisasi modern berdampingan dengan perkebunan rakyat yang dilaksanakan oleh para pekebun kecil yang sederhana dan “tradisional”.

Pada 1970-an, pemerintah mengembangkan perkebunan besar badan usaha milik negara yang memakai utang luar negeri. Pola perusahaan inti rakyat perkebunan dikembangkan. Pada 1980-1990-an awal perusahaan besar swasta mulai masuk, didukung oleh program Perkebunan Besar Swasta Nasional dengan skema bank berbunga rendah. Peran pemerintah mendorong perkebunan besar, BUMN, dan swasta sangat besar. Luas area kelapa sawit milik BUMN dan swasta pada 1968 masing-masing hanya 79 ribu dan 41 ribu hektare. Pada 2006, dari 5,6 juta hektare perkebunan kelapa sawit, 57 persen dikuasai swasta, 30 persen rakyat, dan 13 persen negara. Dominasi perkebunan swasta hanya ada di sawit.

Peran pemerintah dalam mendorong perkebunan rakyat relatif kecil. Berbeda sikapnya terhadap korporasi swasta, perbankan kurang bersahabat dengan petani, bahkan sering dikatakan petani tidak bankable. Kenyataannya, perkebunan rakyat jadi tulang punggung penerimaan negara dan penyerapan tenaga kerja. Sebagai gambaran, area kakao rakyat kini sekitar 700 ribu hektare, kebun karet rakyat 3,5 juta hektare, dan kelapa 3,7 juta hektare. Saat ini sekitar 80 persen area perkebunan dikuasai rakyat, sedangkan sisanya oleh swasta dan BUMN. Selain sawit, perkebunan rakyat mendominasi. Rakyatlah yang jadi real investor-nya. Continue reading “Kelapa Sawit, Berkah atau Masalah?”

Pertanian: Si Kaya Versi Si Miskin


 
Khudori
Kamis, 07 Desember 2006 | 12:43 WIB

Pengembangan biofuel tampaknya tidak semulus yang diharapkan. Ini bisa dilihat dari terhambatnya target Pertamina memasarkan biosolar di 181 stasiun pengisian bahan bakar umum di Jakarta dan Surabaya hingga akhir 2006. Pasalnya, ketersediaan fatty acids methyl ester (FAME) atau biodiesel dari minyak sawit amat terbatas. Pertamina perlu 200 ribu ton FAME untuk mensubstitusi 5 persen konsumsi solar setahun, tapi pasokannya kurang dari separuh. Pertamina memperkirakan, biodiesel hanya bisa dijual di 131 SPBU. Selain itu, karena harga tidak diatur, harga FAME melonjak tajam. Per Oktober, harga FAME Rp 5.300 per liter, lebih mahal ketimbang harga minyak mentah di Midd Oil Platt’s Singapore.

Apa yang bisa dibaca dari kondisi aktual ini? Pertama, gencarnya produksi minyak berbahan baku produk pertanian atau nabati merupakan respons yang bijaksana. Selain bersifat ramah lingkungan dan bisa diperbarui, biofuel berbahan baku sumber daya domestik. Ini akan menciptakan lapangan kerja baru dan menstimulasi ekonomi, di samping argumen untuk membangun ketahanan energi sebuah negara. Ketergantungan pada energi fosil membuat bahan bakar ini kian mahal, bahkan menembus lebih dari US$ 70 per barel. Energi fosil juga mencemari lingkungan, cadangannya kian tipis, dan tak bisa diperbarui. Ketika harga energi fosil melambung, banyak negara menoleh biofuel.

Kedua, euforia pengembangan biofuel, seperti yang terjadi di Indonesia saat ini, bukanlah hal baru. Secara global, sudah banyak negara yang memproduksi dan memakai biofuel secara komersial dengan memanfaatkan bahan nabati domestik. Jerman, Prancis, dan Austria menggunakan kanola (rapeseed), Spanyol bertumpu pada minyak zaitun (olive oil), Amerika Serikat pada minyak kedelai (soybean) dan jagung, Italia pada bunga matahari (sunflower oil), Mali, India, serta Afrika pada jarak pagar (jatropha oil), Filipina pada kelapa (cocodiesel), Brasil pada tebu, dan Malaysia pada minyak sawit (palm oil). Continue reading “Pertanian: Si Kaya Versi Si Miskin”

Meruwat Kembali Pertanian yang Sekarat


 
Khudori
Rabu, 30 Januari 2008 | 15:06 WIB

Krisis kedelai yang meledak saat ini sebetulnya hanya episode awal dari potensi bom krisis pangan yang kemungkinan besar meletus di negeri ini. Krisis pangan itu benar-benar akan meletus apabila gelombang sejarah yang saat ini berlangsung tidak dibelokkan. Lebih dari dua dekade telah terjadi peminggiran (undervalue) sektor pertanian secara sistematis, bahkan dikampanyekan untuk meninggalkan pertanian guna melompat ke jenjang industrialisasi. Itu semua telah menempatkan petani sebagai pelaku utama di sektor pertanian dalam kondisi sekarat. Di luar stagnasi produksi dan penurunan produktivitas, sektor pertanian telah mengalami proses pembusukan dan kematian akut.

Hampir di semua level kebijakan, yang terjadi justru destruksi sistemis di semua lini, baik di on farm, off farm, maupun industri dan jasa pendukungnya oleh sektor yang langsung ditopangnya. Maka terjadi paradoks yang tak masuk akal. Program revitalisasi, peningkatan daya saing, serta peningkatan produksi petani dan kesejahteraan petani selalu didengungkan, tapi pada saat yang sama, degradasi sumber daya tanah, air, dan iklim akibat pembabatan hutan serta buruknya implementasi tata ruang akibat intervensi pemodal kuat/pejabat dengan argumen sumber devisa terus berlangsung nir-intervensi.

Daya tampung dan distribusi daerah aliran sungai semakin memburuk karena infrastruktur irigasi tidak pernah dibenahi. Padahal tanpa air, pertanian sekarat. Masih berlanjutnya konversi lahan-lahan pertanian produktif membuat investasi irigasi, jalan, dan infrastruktur muspro. Akhirnya, investasi dan teknologi, seperti introduksi varietas unggul baru, belum mampu menggenjot produksi secara signifikan. Continue reading “Meruwat Kembali Pertanian yang Sekarat”

Menjaga Kedaulatan Pangan



Jumat, 22 Februari 08

Siswa Sekolah Dasar (SD) pada tahun 70-an sangat hapal jika ditanya tentang makanan pokok masyarakat di Indonesia. Makanan pokok masyarakat Madura jagung, Irian Jaya sagu, dan Wonogiri thiwul. Penulis yakin kalau saat ini ditanyakan hal yang sama, jawaban yang keluar dari mulut mereka pasti sama yaitu “nasi atau beras” !

Menurut Rosegrant (1997), partisipasi konsumsi beras penduduk Indonesia dewasa ini mencapai 96,87 persen. Selama ini ketahanan pangan bangsa ini selalu diukur dari berapa jumlah produksi dan stok beras yang dikuasai pemerintah. Kebijakan “berasisasi” menyebabkan kearifan pangan lokal tercerabut. Konsumsi sagu, umbi-umbian (hipere), jagung, thiwul, telah beralih ke beras. Yang terjadi kemudian adalah kasus-kasus kelaparan seperti di Lembata (NTT), Yahukimo (Papua), dan terakhir di Pulau Karimunjawa. Continue reading “Menjaga Kedaulatan Pangan”

Industri Gula Gunakan Mesin Tua


Finance-tribunjabar.co.id  
Jum’at , 01 Februari 2008 , 01:51:51 wib

erwin adriansyah

CIREBON, TRIBUN – Jika berdasarkan potensi yang dimiliki Jabar, sebenarnya, besar. Pun dalam hal produksi gula. Sayangnya, kualitas gula produk Jabar sulit berkembang. Salah satu penyebabnya, saat ini, masih cukup banyak industi gula yang menggunakan mesin-mesin tua.”Bahkan, tidak sedikit mesin yang usianya 100 tahun lebih,” tandas Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Jabar, Anwar Asmali, belum lama ini.

Dasar itu, kata Anwar, yang membuat pihaknya meminta pemerintah untuk secepatnya melakukan perbaikan pabrik gula. Tujuannya, jelas dia, adalah untuk meningkatkan hasil produksi gula rakyat.

”Saya kira, akan percuma saja jika luas lahan tebu terus yang ditambah, tetapi pabrik gula masih menggunakan mesin tua yang berumur di atas 100 tahun,” ujarnya. Continue reading “Industri Gula Gunakan Mesin Tua”

Pertanian Berbasis Keluarga Punya Andil Kurangi Pemanasan Global


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Rabu, 16 januari 2008 | 19:00 WIB

JAKARTA, KCM

Pertanian berkelanjutan yang berbasis keluarga mempunyai andil dalam mengurangi pemanasan global. Salah satu contohnya, dengan tidak memanfaatkan pupuk dan racun kimia berarti petani mempunyai andil dalam mengurangi energi atau emisi yang menjadi sumber pemanasan global.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia, Henry Saragih, usai mengikuti talk show menyangkut laporan publik pasca KTT Perubahan Iklim yang telah berlangsung di Bali, oleh Gerak Lawan, salah satu jaringan WALHI, pada Rabu (15/1) di Kafe Darmint, Jakarta Utara.

Henry menambahkan saat ini masyarakat Indonesia harus lebih memprioritaskan diri untuk memproduksi tanaman pangan yang bisa langsung dikonsumsi oleh masyarakat, bukan untuk kepentingan industri.

“Jadi kita memproduksi hasil pertanian itu untuk kebutuhan kita dulu. Demikian juga dengan energi yang diproduksi dipakai untuk kepentingan kita dulu. Kita tidak menjual hasil pertanian untuk negara lain,” kata Henry. Continue reading “Pertanian Berbasis Keluarga Punya Andil Kurangi Pemanasan Global”

Alih Fungsi Lahan di Jateng Tak Terkendali


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Rabu, 16 januari 2008 | 21:50 WIB

SEMARANG, RABU- Dokumen tata ruang wilayah dan kawasan lindung di Jawa Tengah dinilai belum efektif untuk mengendalikan alih fungsi lahan daerah aliran sungai (DAS).

Kepala Badan Pengelolaan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal) Jateng, Djoko Sutrisno, di Semarang, Rabu (16/1), memprediksi banjir dan longsor di wilayah Jateng pada masa mendatang masih akan terjadi jika penanganannya masih normatif.

Kondisi wilayah Jateng, terutama di daerah hulu DAS, katanya, banyak yang beralih fungsi sehingga menjadi lahan kritis dan terjadi kerusakan yang luar biasa. “Contohnya, lahan kritis pada DAS Bengawan Solo saat ini telah mencapai 134.000 hektare. Sedangkan lahan kritis di DAS Jratunseluna sebesar 186.450 hektare,” katanya.

Djoko Sutrisno mengatakan, banyaknya lahan kritis, tidak adanya bangunan di daerah hulu, pendangkalan aliran sungai, dan sejumlah faktor lain menjadi faktor utama penyebab banjir di Jateng.

Ia mengakui, faktor lain yang menyebabkan bencana Jateng, yakni curah hujan yang besar pada awal musim hujan menyebabkan tanah dan tanaman tidak bisa menahan air. Tanah di daerah hulu yang banyak diolah manusia, menjadikan humus tak bisa lagi menyerap air sehingga air hujan langsung mengalir dan berimbas pada banjir.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, Sri Rahayu Amin Sudibyo mendesak pemerintah untuk melakukan revisi mengenai tata ruang, terkait penyusunan kawasan rawan bencana dan kawasan lindung. “Instansi terkait perlu mengadakan perubahan tata ruang Jateng karena tata ruang Jateng saat ini diperkirakan sudah tidak tepat lagi,” katanya.  (MSH)
msh

@

 

Taken from :kompas.co.id

Sandyfoot Farm

Growing a market garden in the Piedmont of Virginia

Travels with Tricia A. Mitchell

Sharing Tales of People, Places & Passion. A travel blog to inspire & inform with slow-travel narratives about citizen diplomacy, culture, wine & food, and social good.

Zygoma

Adventures in natural history collections

The Contemplative Mammoth

ice age ecology, early career academia, and diversity in STEM

Dynamic Ecology

Multa novit vulpes

Exploratorius

Old School Photo Hack

Steve McCurry's Blog

Steve's body of work spans conflicts, vanishing cultures, ancient traditions and contemporary culture alike - yet always retains the human element. www.stevemccurry.com

LEANNE COLE

Fine Art Photographer

photoblog

Tulio Silva

Laura Macky Photography

Journey of a body on this earth

Joshi Daniel Photography

Images of People Photoblog

The Hudsucker

Read. Think. Repeat.

The Byronic Man

We can rebuild him. We have the technology... Drier. Hilariouser. More satirical than before.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 52 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: