MENONTON GUA ULAT BERSINAR


    Selandia Baru. Negeri kepulauan ini luasnya hanya 265.000 km2. Namun, begitu kaki menjejak di salah satu wilayah Pasifik Selatan ini, hati jadi jatuh cinta dan ingin kembali lagi. Atraksi apa saja yang disajikan negeri ini?
Pesawat SQ 285 dari Singapura mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Auckland, Selandia Baru, pada tanggal 23 Januari 1999, pukul 11.10. Cuaca cerah musim panas menyapa saat kaki menginjak negeri dengan bentang wilayah seluas 265.000 km2 di Pasifik Selatan. Dawson, tuan rumah yang menjemput saya sudah menunggu di bandara.Dalam perjalanan ke rumahnya, Dawson sengaja mengambil jalan memutar agar saya bisa melihat berbagai pemandangan Auckland. Maklum, inilah kunjungan pertama saya ke negeri berpenduduk 3,5 juta jiwa ini. Continue reading “MENONTON GUA ULAT BERSINAR”
Iklan

KALAU PERLU “MENCULIK” DAN TIDUR DI DAPUR


Sebuah bangunan Todaiji di Nora

Bila tak paham bahasa tuan rumah, seorang pendatang bisa mendadak bisu, tuli, sekaligus buta huruf. Apalagi di Jepang. Belum lagi negeri itu terkenal dengan biaya hidupnya yang mahal bagi turis mancanegara. Namun, itu bukan tak bisa diatasi asal mau bertualang sebagai backpacker (turis berkantung tipis tapi nekat melancong di negeri orang) seperti pengalaman Dhorothea Triarsari berikut ini. Dengan duit pas-pasan ia bisa mengunjungi beberapa tempat menarik di sana.

Pertama kali tiba di Hiroshima pada awal musim semi 1997, saya selalu diliputi perasaan waswas tinggal di negara berbiaya hidup termahal di dunia. Namun, berbekal pengalaman hidup irit sebagai mahasiswa indekosan di tanah air, saya berharap bisa menyelesaikan tugas sebagai mahasiswa pertukaran dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada di Hiroshima University of Economics.Walau tiap bulan mendapat beasiswa dari Kementerian Kependidikan Jepang, biaya hidup dan tagihan bulanan bisa membuat mata terbelalak. Tiap bulan saya harus membayar sedikitnya 5.000 yen untuk tagihan air, listrik, dan gas. Padahal pemakaian sudah dicoba seirit mungkin; pendingin ruangan tidak dinyalakan dan semua lampu dimatikan saat tidur. Continue reading “KALAU PERLU “MENCULIK” DAN TIDUR DI DAPUR”

MADAGASKAR: SURGA PARA PENCINTA ALAM


Konon 2.000 tahun yang lalu orang Indonesia telah datang ke Madagaskar, berbaur dengan pendatang lainnya. Meskipun masih diintip kemiskinan, negeri ini punya kekhasan tersendiri: adanya tanaman dan binatang langka, serta ekologi yang unik. Tak pelak, negeri pulau ini merupakan surga bagi para pencinta alam.

madagaskar5.jpg (20155 bytes)
Rumah-rumah sederhana di perkampungan Madagaskar. (Foto-foto: Pascal Maitre)

Pulau Madagaskar terletak 400 km dari pantai timur Afrika, agak ke sebelah selatan katulistiwa. Alamnya begitu variatif, mulai dari lembah yang sejuk, hutan hujan tropis, pantai yang indah, sampai sabana kering dengan padang kaktus.

Madagaskar adalah “rumah” dari sebagian besar spesies lemur (semacam kera) yang ada di dunia. Ada vari yang separuh kera, microcebus, si monyet cebol yang cuma sebesar tikus, macaco yang jinak, catta dengan bulu abu-abu dan buntut bergaris-garis hitam putih, sifaka yang bisa melompat sejauh 30 kaki (hampir 10 m)dari satu dahan ke dahan lain, atau lemur terlangka, aye-aye alias mausaki. Sebagian penduduk setempat percaya bahwa roh orang yang telah meninggal bersemayam dalam diri lemur terlangka itu.

Bagi pencinta burung, negeri ini merupakan surga dengan burung-burung langka dan cantik seperti vanga, crested coua, serta lebih dari 70 spesies burung bersuara merdu dan sejenis kakatua, burung hantu, juga burung bangau dan flamingo, serta burung pemangsa macam elang. Continue reading “MADAGASKAR: SURGA PARA PENCINTA ALAM”

Senyum Budha Menuju Nirwana


Berwisata tidak selalu harus menuruti petunjuk brosur wisata standar. Brian Jonston menuturkan apa yang dia temukan di suatu tempat terpencil di Propinsi Sichuan, Cina, yang dimuat dalam The Straits Times

kop_lang2.jpg (17770 bytes)Orang Amerika itu nyaris pas dengan stereotip turis-turis dari negara Paman Sam: setengah baya, gemuk, berpakaian agak norak. Keringat bercucuran di dahinya. Begitu melihat saya, hampir-hampir saya ditubruknya lantaran lega. Agaknya, selain kami berdua, tak ada lagi orang asing di Dazu.”Hotelnya sungguh payah,” katanya. (Memang.) “Dengan apa Anda ke sini? Saya naik bus umum dari Chongqing. Huh, menderita!” Nada bicaranya seolah “menuduh” kalau bus umum menjadi sarana untuk menyiksa orang. Namun, harus diakui, di Cina terkadang memang demikian.

Saya juga tiba dengan bus, setelah melalui perjalanan sejauh 160 km dari Chongqing. Satu-satunya rute lain yang dapat ditempuh untuk mencapai kawasan terpencil di Propinsi Sichuan ini adalah jalur kereta api dari Youting, yang jaraknya 30 km dari Dazu. Continue reading “Senyum Budha Menuju Nirwana”

BANTI, DESA KECIL DI TENGAH GEMERLAP “KOTA BESAR”


Raksasa pertambangan Freeport membawa perubahan sangat besar pada alam kehidupan masyarakat Irian Jaya. Namun ada satu penduduk di desa kecil yang masih bertahan dengan sifat dan ciri asli suku Amungme, yakni Desa Banti. Kendati mereka tak disukai karena enggan b eradaptasi, acap pula terlibat dalam peperangan antarsuku, Rudi Nurcahyo yang berkunjung pada akhir Desember tahun lalu, merasakan keramahan dan ketulusannya.


banti1.jpg (18464 bytes)
Honai beratap plastik.

Welcome to Banti – Selamat Datang di Desa Banti”, demikian papan nama yang menyambut pendatang tepat di seberang jembatan besi kokoh yang menyeberangi Sungai Aikwa. Di dekat papan nama tersebut tampak dua wanita setengah baya penduduk setempat, yang duduk di batu kali besar dan tengah menyulam noken, sejenis tas terbuat dari akar tumbuhan/rotan. Keduanya tidak terlalu peduli dan tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran pendatang. Mereka mengenakan pakaian seperti layaknya wanita muda di pedesaan pada umumnya di Indonesia, dan tampak cukup bersih dan rapi.

Di kejauhan, sekumpulan orang menggerombol di beberapa tempat, sambil melakukan tawar- menawar harga. Di hari pasar, berbagai barang kebutuhan sehari-hari dijual dan dipertukarkan. Pada umumnya mereka sudah menggunakan uang tukar resmi (Rupiah) sebagai alat jual-beli, tidak lagi menggunakan sistem barter. Namun barang-barang yang dijual masih sangat terbatas, seperti: makanan pokok; petatas, keladi, umbi-umbian, minyak goreng, sayur-mayur, alat jahit-menjahit sederhana, dan kebutuhan rumah tangga sehari-hari lainnya seperti garam, sabun, bahkan rokok. Continue reading “BANTI, DESA KECIL DI TENGAH GEMERLAP “KOTA BESAR””

WISATA TERUSAN PANAMA


Berbeda dengan Terusan Suez, Terusan Panama membelah dataran tinggi, sehingga kapal yang melewati terusan ini seperti naik turun gunung. Perjalanan melewati Terusan Panama sepanjang 81,6 km ini memakan waktu sekitar 18 – 20 jam. Ini termasuk 8 – 10 jam melintasi tangga-tangga dam yang berfungsi mengangkat dan menurunkan kapal selama proses penyeberangan.

Ada tiga tangga lock, satu yang menghadap Atlantik, Gatun Locks, dua menghadap Pasifik, Pedro Miguel Lock dan Miraflores Lock. Ketiga lock atau dam ini bisa dibuka dan ditutup dengan tenaga listrik. Bila kapal sudah masuk lock, pintu akan tertutup, selanjutnya pintu depan dibuka, hingga air masuk dan kapal terangkat ke atas. Begitu berturut-turut sampai tiga kali hingga kapal sampai pada permukaan telaga. Begitu pula sebaliknya kalau mau turun dari telaga.

Saat melewati lock, mesin kapal dimatikan dan kapal ditarik empat kereta bertenaga raksasa yang bergerak di atas rel dari sisi kiri dan kanannya. Ini untuk meluruskan laju kapal sehingga tidak sampai membentur dinding lock. Continue reading “WISATA TERUSAN PANAMA”

Tana Toraja dari Atas Sadel


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
EKONOMI : MANAJEMEN – AKUNTANSIFISIP : ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bdg- utkampus.net

toraja3.jpg (26382 bytes)

Pembantaian kerbau sebelum perjamuan pesta.

Sebagai daerah wisata budaya, Tana Toraja tak habis-habisnya dikagumi. Upacara adatnya, rumah adatnya. Tapi, kekayaan alamnya tak kurang potensial untuk dikembangkan menjadi objek wisata minat khusus: trekking, rafting, mountain biking, atau rock climbing. Dalam rangka pengumpulan data, Bambang Hertadi Mas, ditemani fotografer Tantyo Bangun dan Jim Plouffe, wartawan asal Kanada, mengayuh sepeda menjelajah kawasan yang terletak di Sulawesi Selatan itu.

Pagi yang dingin dan berkabut tak mengendurkan semangat untuk menggenjot pedal kereta angin kami. Tujuan kami Kete’kessu, sebuah desa tradisional di tenggara Rantepao. Inilah kayuhan awal kami. Kete’kessu, selain terkenal dengan ukiran khas Toraja dan cindera mata yang dijual, juga memiliki banyak tongkonan (rumah adat) dengan lumbung padi di depannya, terpisahkan oleh tanah lapang.

Tidak jauh dari rumah adat itu terdapat dinding batu terjal yang dimanfaatkan sebagai liang kubur. Peti jenazah ada yang ditanam dengan cara memahat atau melubangi dinding batu terlebih dahulu. Ada juga yang disandarkan begitu saja di atas permukaan tanah, disangga batang-batang kayu yang ditancapkan ke dinding batu. Timbunan tulang belulang dan tengkorak manusia bisa dilihat pada kotak kayu yang sudah lapuk.

Jeritan kawanan kalong Continue reading “Tana Toraja dari Atas Sadel”